Kategori
Catatan

Mandi Bareng Memang Asyik, tetapi Siapa yang Menanggung Dosanya?

Tentu, sebagai santri, kita tahu bahwa tidak ada beda antara hukum tidur bareng satu selimut, dengan mandi bareng satu kamar mandi. Namun, pada realita, sikap dan ekspresi pelaku keduanya sangat berbeda. Mereka yang pernah tidur bareng, pasti merasa berhidung belang. Apalagi kalau seudah terciduk. Namun, berbeda sekali dengan mereka yang terbiasa mandi bareng. Jangankan merasa bersalah, mereka malah berteriak kegirangan satu-sama lain dalam satu kamar mandi.

Secara naluri, segala hal yang dilakukan secara bersama tentu ada kenikmatan tersendiri. Semisal, buka bersama. Tentu sangat beda rasanya ketimbang buka sendirian. Mungkin, nikmat kebersamaan inilah yang kerap dirasakan mereka yang terbiasa mandi bareng.

Berkenaan hal ini, tadi (26/02) saat ujian Fathul-Mu’în, keluar soal mengenai keharaman dua lelaki yang tidur satu kain. Setelah saya cek di I’anatuth-Thalibîn, muncul hadis yang berbunyi:

وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ

“Seorang pria tidak boleh bersama pria lainnya dalam satu kain, dan tidak boleh pula wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.”

(HR. Muslim)

Mengenai hadis tersebut, Syekh Abu Bakar Syatha berkomentar yang mengutip dengan pandangan Imam Ali Syibra Malisyi perihal keharaman mandi bareng. Ulama yang berinisial ع ش ini menyamakan antara mandi bareng dengan tidur bareng.

قَالَ ع ش وَكَالمُضَاجَعَةِ مَا يَقَعُ كَثِيْرا فِي مِصْرِنَا مِنْ دُخُوْلِ اْثنَيْنِ فَأَكْثَرَ مَغْطَسَ الحَمَامِ  فَيَحْرُمُ إِنْ خِيْفَ النَظَرُ أَوْ المَسُ مِنْ أَحَدِهِمَا لِعَوْرَةِ الآخَرِ اه

“Imam Ali Syibra Malisyi berpendapat: sama dengan tidur bareng ialah yang terjadi di kota saya, yakni kasus dua orang atau lebih masuk ke dalam satu bak mandi. Hal itu haram bila khawatir melihat atau menyentuh aurat satu-sama lain”.

Melirik keterangan di atas, tentu sangat serupa kasus tidur bareng dengan mandi bareng. Bila tidur bareng dalam satu selimut dianggap hal mencurigakan, tentu mandi bareng juga tidak boleh dibiarkan.

Sejatinya, kesadaranlah yang perlu tertanam dalam tiga orang yang terlibat hal ini. Tiga orang itu meliputi: tersangka, saksi, dan pemangku kebijakan.

Kesadaran Tersangka atau Pelaku

Tentu untuk menghilangkan rutinitas buruk ini, perlu kesadaran dari tersangka. Kesadaran yang saya maksud di sini ialah, mengoptimalkan al-hisymah al-imany, rasa malu yang berangkat dari keimanan.

Orang yang memiliki rasa malu semacam ini, pasti sangat sangat enggan mandi bareng dengan memakai celana dalam saja. Apalagi sampai ukuran batang kemaluannya kelihatan. Sungguh menjijikkan!

Kesadaran Saksi Mata

Tidak perlu menyangkal, bahwa kebanyakan dari kita mengetahui kejadian ini. Kebanyakan dari kita juga tahu bahwa hal itu merupakan rutinitas yang buruk. Herannya, kita hanya diam saja; tanpa ada tindakan apa-apa.

Bila kita memiliki kesadaran amar makruf nahi mungkar, melihat kejadian ini, pasti tidak akan diam saja. Paling tidak, menegur atau melaporkan kepada yang berwenang.

Kesadaran Pemangku Kebijakan atau Tibkam

Bagi pemangku kebijakan, melihat kebiasaan kurang baik semacam ini seharusnya tidak diam saja. Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) sudak selayaknya memberikan sanksi kepada tersangka.

Tibkam juga seharusnya tidak melepastoilet, yang sudah mulai menjadi markas utama gengster. Mirip seperti sungai, yang menjadi markas geng Bonais setelah setengah dasawarsa silam, Tibkam berhasil membubarkan mereka.

Terlebih pada tahun ini, toilet empat lantai sudah terbuka secara umum. Bila lepas dari pengontrolan, tentu bukan menjadi toilet lagi, melainkan menjadi kantor sekretariat bagi banyak gengster.

Inilah intisari dari perkataan Sayyidina Ali, “Kebenaran tanpa sistem yang mapan, dengan mudah terkalahkan oleh kebatilan dengan sistem yang mapan”. Sudah seharusnya, Tibkam mengantisipasi kemunculan gengster baru, setelah sekitar tujuh tahun lalu Tibkam kecolongan dengan kemunculan gengster Bonais.

Silahkan Berkomentar!