Kategori
Catatan

Komunitas Buku Indonesia

Tahun baru hijriah kali ini, jauh berbeda dengan sebelumnya. Tahun lalu, kita masih bisa menyaksikan acara perayaan hari besar Islam (PHBI) pada malam tanggal satu Muharam. Begitu juga, kita menikmati awal Muharam dengan segala ketenangannya; tanpa perlu meributkan soal santri dipulangkan pada tanggal tertentu di bulan ini.

Bertepatan dengan masa pandemi, Muharam 1442 Hijriyah sekarang ini tidak ada acara semarak layaknya tahun lalu. Batas santri pun sangat ketat. Jangankan bergerak, bernafas saja tidak sebebas tahun sebelumnya. Seakan semua gerak-gerik santri diawasi.

Tahun lalu, bulan Muharam menjadi tanda Imtihan Dauri (Imda) semakin dekat. Tentu hal ini berlaku untuk murid Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Bagi aktivis musyawarah, Bahtsul Masail Wustha (BMW) menjadi ajang kajian yang paling dinanti. Sayangnya, pada Muharam sekarang, keduanya gagal terselenggara. Diikuti dengan event lain yang sengaja dibatalkan. Sangat manusiawi, jika beranggapan Muharam tahun ini terasa hambar.

Namun, di balik itu semua, ada keistimewaan tersendiri yang hanya ada pada tahun ini, yakni waktu semakin longgar, lantaran kegiatan rutin banyak ditiadakan. Kekosongan itulah yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin.

Memanfaatkan Waktu dengan Membuat Komunitas Buku Indonesia

Ada beberapa kegiatan bermanfaat untuk mengisi kekosongan. Tentu, yang kita cari ialah manfaat yang tidak qashîrah, alias tidak hanya bermanfaat kepada dirinya, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain. Salah-satunya ialah: membuat komunitas baca (Komunitas Buku Indonesia), atau masyhur dengan sebutan: halakah.

Bisa dikatakan komunitas, bila ada intraksi antar anggota. Dengan kata lain, tidak hanya belajar sendiri. Dengan proses belajar semacam itu, ilmu yang sedang dipelajari bersama, tertular satu-sama lain, saat itu juga. Lain lagi, bila menyebarkan ilmu yang diperoleh dari hasil kajian. Tentu, manfaat untuk orang lain semakin melebar.

Tidak sampai di situ, dengan mengadakan halakah sendiri—dengan tema kajian tertentu—secara tidak langsung kita mengajak orang lain yang memiliki hobi yang sama untuk ikut nimbrung. Misalnya, saya mengadakan halakah muamalah, tentu orang yang memiliki kecendrungan menguasai ilmu perbankan syariah ingin sekali ikut serta. Dengan begitu, kita memiliki rekan baru yang seirama dengan keinginan kita.   

Halakah yang saya maksud, tidak melulu dalam urusan agama yang sudah tentu tidak terasing lagi, agar tidak monoton dan membosankan.

Lain cerita, bila halakah yang didirikan terus berlanjut, meski pendirinya sudah tidak ada. Selaku kaum nahdliyin, tentu kita tidak menyangsikan ada pahala yang mengalir di sana.

Alhasil, dari uraian di atas, sama-sekali tidak rugi membuat komunitas baca. Semuanya berdampak positif.

Perpustakaan Tempat yang Baik untuk Halakah

Gudang yang menampung jutaan referensi adalah perpustakaan. Jika hendak membuat komunitas baca, dalam bidang apa saja, perpustakaan menjadi lokasi yang paling baik. Misal, jika kalian ingin membuat halakah filsafat, tentu tempat terbaik ialah yang dekat dengan koleksi kitab atau buku berklasifikasi 100. Juga, bila menginginkan membuat halakah mengenai ekonomi, tentu tidak lepas dari buku yang berklasifikasi 300 dan 2×4.2. 

Sulit ditemukan pesantren yang memiliki koleksi sebanyak Perpustakaan Sidogiri. Sangat disayangkan, bila saat ini, selagi menjadi santri aktif Sidogiri kita tidak memanfaatkan Perpustakaan Sidogiri dengan baik dan benar.

Silahkan Berkomentar!