Kategori
Catatan

Gejala Sakit Gigi

Sebuah anekdot Gus Dur, yang agak masyhur, adalah mengenai sakit gigi. Beliau memiliki sebuah pernyataan unik: sakit gigi lebih pedih rasanya dari pada sakit hati. Saat disangsikan, beliau jawab dengan enteng, “Wong, saya lagi sakit gigi!”

***

Anekdot di atas merupakan gambaran betapa egoisnya—kebanyakan—manusia; yang selalu menganggap besar apa-apa yang ada dalam dirinya. Baik berupa kelebihan, maupun kekurangan.

Ambillah foto kelasmu tahun lalu; di mana puluhan teman seruang bersama wali kelas serentak melambaikan full smile. Lantas, muka siapakah yang kaulihat lebih dahulu? Pak gurumu, teman sebangkumu, atau malah dirimu sendiri?

Coba kamu menunduk. Lalu lalu lihat apa bakat dalam dirimu. Kau pasti mengira, bahwa pekerjaanmu itu jauh melampaui profesi yang dimiliki orang lain.

Atau meliriklah pada penderitaan yang sedang kaualami. Niscaya kau akan berpendapat, bahwa kesengsaraanmu itu jauh lebih pedih dari pada musibah yang menimpa orang lain. Sebagaimana digambarkan dalam anekdot Gus Dur di atas.

Keegoisan manusia bisa tampak saat melihat seseorang yang lagi asyik nge-vlog. Si mutakallim akan dengan bahagianya memuncratkan pengalaman ‘penting’ dirinya sendiri. Sedangkan si mukhâthab dengan muka dingin, ingin sekali menutup telinganya, lantaran menganggap ceritanya sebagai sampah—yang seharusnya dibuang ke tempat sampah—tapi kok malah dilemparkan ketelinganya.

Kejadian tersebut mengingatkan kita agar tidak terlalu egois. Apalagi sampai cerita semua hal mengenai diri sendiri. Dari mana kau tahu, bahwa sejarahmu itu penting? Jika yang menganggap penting hanya dirimu, ya, ceritakanlah kepada dirimu sendiri. Jangan kepada orang lain! Takutnya—bahkan kemungkinan besar—terjadi seperti kejadian di atas; di mana mukhatab mendengarkan dengan keterpaksaan, bukan ketertarikan.

Egois memang fitrah. Tapi perlu dilawan. Jika dituruti, malah melompat pada masalah yang lebih besar lagi: meninggalkan kewajiban.

Al-Ghalayayni menyatakan penyebab seseorang tidak peduli kepada kewajiban adalah sifat egonya. Dia menganggap bahwa sosok yang paling berperan penting hanyalah dirinya sendiri, hingga tak peduli akan kewajibannya.

Jika ini terjadi, niscaya dia bersikap sesuka hati. Yang mana akan menjerumuskannya kepada jurang kegagalan.

Alhasil, kalian harus percaya, bahwa egois itu berbahaya. Dan, harus percaya, bahwa egois itu tak berguna. Sebab, yang merasakan bahwa dirinya penting, hanyalah dirinya sendiri. Tidak lebih!

Silahkan Berkomentar!