Kategori
Catatan

Faktanya, PSK Tidak Menikmati Pekerjaannya

Di situs ini, saya hanya akan menulis catatan harian. Saya menulis catatan harian karena banyak hal. Pertama, untuk tetap mengembangkan gairah tulis menulis saya. Kedua, biar saya membikin sejarah saya sendiri; sesuai kepentingan saya sendiri. Ketiga, saya hanya ingin hepi-hepi aja.

Selama ini, saya menulis merasa sangat tertekan. Yah, mungkin ini akibat karma[1] lagi. Pasalnya tahun lalu, saya bikin metode baca-tulis, yang isinya murni mengkritik teman-teman seperjuangan saya yang sudah menyatakan diri secara terang-terangan untuk berhenti menulis. Nah, saya tidak ingin hal itu terjadi kepada saya.

Jadi, saya ingin buka situs lagi, lebih tepatnya, sekadar sub-domain, yang memang menulis sesuka hati saya. Bukan karena tuntutan.

Jujur, selama ini, saya menulis karena tuntutan. Itulah yang membikin saya tidak hepi lagi dalam menulis. Meski saya hobi berpikir dan mengkaji, tetapi sama-sekali saya tidak hepi menulis kajian. Meskipun menulis kajian atu artikel ilmiah, jauh lebih saya sukai ketimbang menulis seperti berita. Jelas, saya lebih memilih artikel ilmiah.

Namun, dalam artikel ilmiah, tetap saja saya terpaku dan perlu kepada beberapa referensi yang memang memusingkan kepala. Tidak boleh asal-asalan. Mana ada sesuatu yang memusingkan kepala menjadikan seseorang hepi.

Selain tuntutan artikel ilmiah, dari beberapa website, saya dimintai untuk menulis yang mengarahkan backlink. Tentu ini juga tidak membikin saya hepi. Saya hepi bila saya menulis sesuai kehendak saya[2] dan yang saya sukai. Kalau tuntutan, ya, jelas enggak, lah!

Makanya, persetan kepada orang yang mengatakan: kalau nyari pekerjaan, nyari pekerjaan yang kamu sukai. Nah, pernyataan semacam itu sebenarnya bisa menipu. Karena meskipun dapat pekerjaan yang ia sukai, bila sudah orientasinya adalah uang, bukan hepi, tetap saja tidak hepi.

Salah-satu kanal Youtube, yang pernah mewawancarai PSK, mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan. PSK sama-sekali tidak menikmati pekerjaannya. Karena ia orientasianya adalah uang, bukan kesenangan.

Jadi, sungguh rugi: orang yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan uang. Toh, meski pun mendapatkan uang, ia belum tentu mendapatkan kesenangan. Padahal sebenarnya, ingin cari uang, sebagai wasilah mencari kesengan. Anehnya, malah ia lupa tujuan, dan malah terlelap di persimpangan jalan.

Di blog ini, saya juga tidak berjanji upload tiap hari. Karena sebagaimana yang saya jelaskan di atas, saya menulis di sini, murni untuk mendapatkan kenikmatan dan kesenangan. Bila situs ini malah membikin tunutan baru bagi saya, ya, malah blunder. Jadinya, saya lupa tujuan, dan malah terlelap di persimpangan jalan. Kelindes truk, lagi. Parah!


[1] Bila menemukan kata karma dalam situs ini, itu hanya ungkapan lain dari sunnatullah. Jadi, jangan diartikan yang enggak-enggak, ya! Coba pikir, deh, masa saya yang sok mutakallimin akan percaya ke karma-karmaan ala para dukun?!

[2] Jika ada kata semaca ini, ya, tentunya yang dimaksud adalah kehendak Allah. Karena sama-sekali saya—dan juga semua makhluk—tidak punya pekerjaan. Bagi Asyairah, manusia tidak memiliki ikhtiyar sama-sekali. Manusia hanya memiliki kasab. Berbeda dengan kaum belakang sungai (ulama waran nahar), yang mengatakan makhluk memiliki ikhtiyar.

Satu tanggapan untuk “Faktanya, PSK Tidak Menikmati Pekerjaannya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *