Ciri-ciri Orang Pemikir Mendalam

Ciri-ciri Orang Pemikir Mendalam

Diposting pada

Malam ini saya tidak bisa tidur lagi. Padahal, tidur pada malam ini bagi saya sangat berarti. Karena banyak hal penting yang harus saya kerjakan esok hari dengan pikiran fress, tanpa rasa ngantuk. Akan tetapi, karena saya yakin bahwa tidur merupakan sebuah yang idhtirari, bukan ikhtiyari, saya sudah pasrah. Tinggal saya menceritakan perihal apa yang sedang menjadi beban pikiran saya selama ini.

Saya membagi manusia pada dua tipe: pemikir dan pekerja. Para pemikir cenderung terlihat tidak memiliki perasaan dan sering acuh tak acuh terhadap sesuatu yang kecil. Lain halnya dengan pekerja, yang memiliki perasaan dan sangat teliti, meski pun terhadap hal kecil.

Saya, alhamdulillah, diberi amanah sejak kelas Tsanawiyah untuk menjadi pemimpin, ketua, dan istilah sejenis di berbagai media, instansi, dan komunitas lainnya. Saya sangat bersyukur, lantaran saya bisa belajar bagaimana cara memimpin yang baik dan benar.

Memang, pada hakikatnya dan yang ada di lubuk hati terdalam saya, bahwa sebenarnya pesantren tidak membutuhkan saya untuk memimpin, melainkan pesantren sedang memberi pelajaran kepada saya tentang masalah kepemimpinan. Sama seperti ulangan, guru sama-sekali tidak mebutuhkan jawaban saya. Karena guru jelas lebih tahu. Saya hanya diberi pelajaran dengan mengisi jawaban di atas kertas soal.

Kembali soal dua tipe orang, saya tergolong pemikir; tidak berperasaan dan acuh tak acuh terhadap hal remeh. Namun, meski saya tipe tersebut, saya paling senang jikalau diberi anggota yang pekerja. Karena meskipun dia tidak tahu apa-apa dan cenderung sulit menangkap apa yang saya sampaikan, tetapi hasil kerja mereka jelas. Kritikan-kritikan pedas pun jarang saya dengar. Berbeda bila memiliki anggota pemikir. Mereka lebih senang berpikir, belum tentu bekerja, dan cenderung kritis.

Dengan logika semacam itu, saya berpikir bahwa idealnya: yang jadi pemimpin mereka yang pemikir, sedangkan anggotanya adalah mereka yang bertipe pekerja. Dalam kehidupan nyata, pekerja memang jauh lebih banyak stoknya, ketimbang pemikir. Selaras dengas sebuah komunitas, yang anggotanya pasti lebih banyak dari pada yang menjadi ketua. Ketua idealnya memang satu.

Saya terapkan konsep samacam itu bertahun-tahun. Hasilnya memuaskan. Pernah saya diamanahi memimpin penggarapan sebuah buku, yang anggotanya pekerja, alhamdulliah, terbit. Berbeda dengan kelompok lain, yang anggotanya lebih banyak yang pemikir, sehingga buku kelompok tersebut tidak terbit.

Baca Juga:  Di Luar Kendali

Suatu saat, saya diamanahi untuk memimpin juga penggarapan beberapa buku, dengan anggota yang pemikir. Nahas, sampai catatan ini ditulis, buku tersebut tidak terbit-terbit. Malah lebih banyak konflik, kritik, daripada menulis hingga jadi.

Dengan fakta hasil pengalaman tersebut, saya semakin mantab bahwa: idealnya ‘hanya’ pemimpin yang boleh pemikir, anggota harus terdiri dari para pekerja. Namun, malam ini berkata lain. Saya menyesal dengan penyesalan puncak. Penyesalan saya sudah tidak tertahan. Saya akan jelaskan pada catatan kali ini.

Pemikir dan pekerja hidup dalam dua habitat yang berbeda. Satu-sama lain tidak bisa saling memahami. Bisa jadi sesautu yang sangat berarti bagi pemikir, tidak berarti sama-sekali di mata pekerja. Sesatu yang berarti di mata pekerja, sama sekali pemikir tidak memperhatikannya.

Contoh kecilnya, merenungi dan memahami hakikat sesuatu. Bagi pemikir, hal itu merupakan hobi, serta menjadi tolak-ukur kadar intelektual seseorang. Namun, bagi pekerja hal itu tidak berguna dan hanya omong kosong. Berbeda dengan semisal: basa-basi keseharian. Bagi para pekerja merupakan sebuah hal yang berarti dan menjadi tolak-ukur kesopanan seseorang. Bagi kebanyakan pemikir, hal tersebut tidak berguna dan merupakan omong kosong.

Itu hanya satu contoh. Sebenarnya, banyak lagi contoh yang membedakan kedua tipe ini. Saya yakin, kalian pun juga tahu perbedaan-perbedaan mendasar tersebut.

Salah-satu guru saya pernah mnyontohkan, “Ada tipe-tipe orang yang lebih senang disuruh nyapu-nyapu dari pada ikut kajian.” Dari sana dapat dengan mudah kita klasifikasikan keduanya.

Oleh karena perbedaan mendasarnya terlalu banyak, keduanya tidak bisa (atau anggaplah tidak ideal) dikumpulkan jadi satu. Jika dikumpulkan, mereka tidak akan pernah saling memahami satu-sama lain. Bukankah tipe pekerja adalah tipe yang paling memiliki perasaan dan cenderung lebih perhatian? Memang, iya. Namun, pekerja cenderung memerhatikan sesuatu yang bagi pemikir tidak penting untuk diperhatikan dan ditanyakan. Perhatian semacam itulah yang malah membikin para pemikir semakin sebal.

Baca Juga:  Akibat Sering Menonton Ceramah Sesat

Justru mereka sama-sekali tidak memikirkan (atau bahasa sopannya melewatkan) sesuatu yang menjadi dilema besar bagi para pemikir. Namun, toh, meski pun ia minta diceritakan masalahnya, seraya menganggap bisa membatu menyelesaikannya, ini malah menjadi masalah baru. Selain karena mengganggu privasi, bila pemikir menceritakannya, pekerja tidak akan bisa memahami dan semakin membuat pemikir sebal.

Begitu pun sebaliknya. Para pekerja sering menganggap ia tidak dihargai, lantaran tidak diperhatikan. Padahal maksud diperhatikan di sana ialah perhatian ala pekerja yang sama-sekali tidak ada manfaatnnya menurut pemikir. Justru, para pekerja tidak memahami pengertian yang telah diberikan sepenuhnnya oleh pemikir. Merka sama-sekali tidak memasukkan itu ke dalam istilah perhatian.

Para pemikir tentu yang dipikir jauh-jauh hari gimana sekiranya ia menularkan ilmunya. Karena ia sadar, bila ilmunya tidak ia tularkan, maka ilmunya akan mati mangikuti jasadnya. Nah, dalam proses penularan ilmu, seperti kaderisasi, pelatihan, pembenahan, diskusi dan lain sebagainya, bagi pemikir itulah bentuk perhatian yang sangat berguna. Bagi pekerja, itu tidak bernilai sama-sekali, dan malah nambah-nambah tugas. Karena para pekrja cenderung tidak memiliki keinginan upgrade pengetahuan.

Dalam sebuah media atau pembuatan buku, ketika para pekerja “menyelesaikan” tugasnya ala kadarnya, para pemikir tentu akan mengkritik habis-habisan. Hal tersebut tidak lain karena rasa perhatian pemikir kepada pekerja. Namun, apakah pekerja akan memahami bahwa itu merupakan sebuah perhatian? Kenyataannya, para pekerja malah menganggap bahwa pekerjaannya tidak dihargai (padahal ia sudah menyelesaikan tugas).

Mengkritik, kan, tidak harus habis-habisan seperti itu! Oke, saya terima masukan tersebut. Namun, silahkan merenung sebentar. Dalam sebuah kelompok yang di dalamnya ada pemikir dan pekerja, ceritanya mereka akan menerbitkan satu karya bersama. Di sana tentunya pemikir tidak sudi bila para pekerja melakukannya dengan ala kadarnya. Karena akan mengurangi reputasinya. Orang-orang memandangnya bahwa karya tersebut juga karya dari pemikir. Bila jelek, maka jelek pula nama pemikir.

Kadar kemampuan seseorang, kan, beda-beda. Tidak pantas, dong, memaksa pekerja untuk menyamai pemikir! Oke, saya terima lagi. Namun, coba berpikir sebentar. Mengapa pekerja tidak mau menyamai pemikir, padahal di sana ada pemikir yang menginginkan para pekerja juga menjadi pemikir? Jawabannya jelas, karena para pekerja tidak menghargai ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu tidak berarti apa-apa.

Baca Juga:  Ideal

Coba kita ubah contohnya antara orang kaya dengan orang miskin. Pada sebuah kelompok, di sana ada orang kaya dan orang miskin. Orang kaya menginginkan orang miskin tersebut menjadi kaya. Ia dengan rutin membagi-bagikan hartanya, biar orang miskin tersebut menjadi kaya sepertinya. Akankah si miskin tadi bilang, “Rizki orang, kan, beda-beda. Tidak layak memberikan harta kepada orang miskin!”

Mengapa dua contoh yang sama dalam kasus yang berbeda, memiliki perlakuan yang berbeda? Karena contoh pertama, si pekerja tidak menganggap bahwa ilmu itu bernilai. Contoh kedua, si miskin memahami bahwa harta itu bernilai.

Alhasil, pekerja cenderung tidak menghargai ilmu. Andaikan ia menghargai ilmu, ia akan mengejar layaknya orang miskin mengejar harta.

Namun, jika sekarang saya ditanya, bagaimana sebauh komunitas terbentuk dengan ideal? Saya tidak bisa menjawab. Akan tetapi, kalau melihat ego masing-masing (tanpa menimbang kesuksesan komunitas) yang ideal adalah berkoloni di habitatnya masing-masing; para pemikir bersama pemikir lainnya dan para pekerja dengan pekerja lainnya.

Para pemikir akan lebih bahagia jika berintraksi yang selevel dengannya. Begitu pula, para pekerja, tentu lebih nikmat dan sehat bila berkomunikasi dengan sesama pekerja. Akan tetapi, tidak dipungkiri, bahwa para keduanya tetap saling membutuhkan. Alhasil, pada satu titik tertentu para pekerja membutuhkan pemikir dan pemikir membutuhkan pekerja. Namun, itu hanya sesaat. Sehabis itu, kembalilah ke habitat masing-masing.

Meninjau dari keidealan sebuah komunitas, bila komunitas tersebut hanya terdiri dari satu tipe saja, jelas tidak tidak akan sehat. Semisal, semuanya pekerja. Jelasnya, sulit komitas tersebut sukses. Para pekerja akan kebinungan dan kesulitan, lantaran tidak ada pemandu yang dapat dengan mudah memecahkan masalah mereka.

Sebaliknya, jika satu komunitas beranggotakan pemikir, sulit sekali komunitas tersebut berjalan dengan baik. Karena walau bagai mana pun, pemikir membutuhkan pekerja untuk mengerjakan buah pikirannya.

Gambar Gravatar
Bukan sosok yang bijaksana, tetapi menyukai kebijaksanaan. Hobinya berpikir dan membikin inovasi.

2 komentar

  1. Ping-balik: Rencana - Miromly

Silahkan Berkomentar!