Kategori
Catatan

Apakah Insomnia Bisa Sembuh?

Saya orangnya insomnia. Repotnya, banyak orang gak ngerti kalo insomnia itu merupakan sebuah penyakit.

Hidup dalam lingkungan pesantren memang serba repot[1]. Khususnya saat berhadapan dengan orang yang minim sekali urusan ilmu kalam.

Dalam ilmu kalam, kita ada istilah: pekerjaan itu ada dua: ikhtiyari dan idhtirari. Sesuai namanya, ikhtiyari merupakan sesuatu yang bisa kita usahakan (ikhtiyar). Sedangkan idhtirari sebaliknya.

Contohnya, kita berjalan atau melompat. Itu sesuatu yang ikhtiyari, yang bisa dilakukan sesuai kehendak kita.[2] Berbeda dengan gemetar atau terserang penyakit, itu sebenarnya idhtirari; kita tidak memiliki pilihan lain.

Nah, repotnya lagi, banyak orang di pesantren yang tidak memahami bahwa sebenarnya insomnia itu sebuah penyakit. Banyak sekali pengurus yang mengira para pengidap insomnia merupakan santri jelata yang—melanggar peraturan tidak tidur malam dengan cara—memilih untuk lembur. Padahal, insomnia itu penyakit. Penyakit itu idhtirari. Para pengidapnya sama-sekali tidak memiliki pilihan lain.

Padahal, para pengidap insomnia bisa saja dia ingin sekali tidur, tetapi tidak bisa-bisa. Kok, bisa! Yah, bisa saja! Akhirnya, dengan cara kreatif—dan tergolong kreatifitas santri—mereka memanfaatkan ke-insomnia-annya ke arah yang positif. Seperti belajar dan sesamanya.

Namun, apa boleh buat. Hidup di pesantren memang serba repot. Terlebih bila berhadapan dengan pengurus yang tidak ahli ilmu kalam. Akhirnya, ia tidak bisa membedakan mana ikhtiyari dan mana idhtirari. Akhirnya memang serba repot.

‘Ala kulli hal, seharusnya para pengurus pesantren diwajibkan belajar ilmu kalam. Titik.


[1] Sebenarnya, sih, ini klaim buta dari saya. Karena saya memang gak pernah hidup di alam non-pesantren. Jadi, saya menilai sesuatu dengan memakai sepatu kuda.

Bisa jadi orang yang kesehriannya hidup ngekos juga akan bilang, hidup di kosan memang serba repot. Ini memang kata-kata yang wajar terlontar oleh orang yang merasakan pahitnya kehidupan dan garamnya kehidupan. Garam, kok, pahit? Itulah kehidupan! Serba repot bilangnya!

[2] Jika ada kata-kata semacam ini, maka maksudnya adalah seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *