Kategori
Catatan

Akibat Sering Menonton Ceramah Sesat

Sempat terjadi polemik dalam diri saya sendiri, ketika seseorang curhat perihal ketenangan batin. Katanya, ia sering mendengar ceramah-ceramah dari kelompok sesat. Ia sendiri sadar, bahwa itu sesat. Namun, ia beralasan bahwa dirinya merasa nyaman dan tenang saat mendengar ceramah sesat tersebut.

Ia curhat ke saya mengenai hal itu. Saya bingung, apa yang mau saya jawabkan. Karena yang ditanyakan bukan perihal salah-benar. Ia bertanya perihal tenang dan risau. Masalah yang ada pada dirinya, ialah merasakan ketenangan batin saat mendengarkan ceramah yang ia sendiri yakini sebuah kesesatan.

Sekali lagi saya ceritakan, saya bingung apa yang mau saya jawabkan. Karena walau bagaimana pun, ketenangan itu bukanlah sebuah jaminan bahwa pendapatnya benar. Namun, saya mau jawab seperti itu, dianya sendiri sudah menyadari bahwa isi dari ceramahnya memang tidak benar.

Saya memilih tidak menjawab. Karena saya memang bukan konsultan hati. Akan tetapi, saya akan membagikan konsep berpikir dan meletakkan ketenangan pada tempatnya. Mari simak saja keterangan saya, sebelum Anda terjebak dengan dilema serupa layaknya orang yang curhat tersebut.

Begini, ketenangan sama-sekali bukanlah jaminan bahwa hal itu benar. Faktanya, banyak orang merasakan ketenangan ketika mendengarkan musik-musik barat, yang penyanyinya setengah telanjang. Apakah berarti kita memilih tetap mendengarkan musik tersebut?

Iya, saya di sini bukan mau membahas perihal hukum musik. Kita bahas di artikel lain saja. Namun, fokus kita di sini ialah pembahasan: apakah ketenangan itu mesti dituruti? Apakah berarti setiap sesuatu yang membikin tenang merupakan sesuatu yang baik? Tentu saja tidak!

Mengapa pola pikir masyarakat kebanyakan menganggap bahwa setiap sesuatu yang membikin ketengan itu berarti baik? Karena mereka beragama lantaran mencari ketenangan. Padahal semacam itu bukanlah tujuan beragama. Kita beragama dan beribadah murni menaati perintah tuhan. Itulah yang dimaksud dengan syariat.

Dalam Ummul-Barâhîn syariat memiliki definisi: khitab Allah kepada orang mukalaf, baik berupa thalab, ibahah, dan wadha’. Itulah syariat. Jadi, bukan urusan sreg-tidaknya di dalam hati.

Bila kita sudah memiliki pola-pikir bahwa syariat itu khitab Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya dan dirumuskan oleh para ulama, kita tidak akan mengukur dan menghukumi sesuatu dengan ketenangan atau tidak. Kita akan mengembalikan semuanya kepada para ulama, yang notabene menjadi pewaris para nabi. Merekalah yang merumuskan perihal khitab Allah yang dibawakan oleh para nabi.

Dengan begitu, jika semisal ada khilafiyah di kalangan ulama, tentu karena kita menjalankan syariat lantaran menjalankan khitab Allah, maka kita tidak perlu mempermasalahkan. Oleh karenanya adak kaidah fikih lâ yungkaru mukhtalaf fîh, urusan mukhtalaf tidak perlu diingkari.

Alhasil, jika seseorang beragama hanya ingin menjadi budak ketenangan, maka ia selalu merisaukan syariat-syariat yang tidak menimbulkan ketenangan. Berbeda jika kita memang murni menjalankan khitab-Nya.

Bila kita memang murni menjalankan khitab-Nya, maka kita hanya akan mempermasalahkan sesuatu yang memang jelas mungkar. Karena kita memang diperintah untuk nahi mungkar. Namun, jika masih mukhtalaf, tentunya kita tidak perlu terlalu merisaukannya. Semoga tulisan saya ini tidak menambah risau. Amin! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *